Pengakuan Eks KKO: Ada Sayatan Melingkar di Leher Jenderal Ahmad Yani (Bag. 2)

JPNN.com

Termasuk pasukan KKO yang pernah menjadi muridnya dan pernah dilatihnya. Salah satunya Kopral Sugimin yang masih hidup hingga kini.
”Saya ketemu Sugimin, langsung saya bilang, ‘Ayo, melok neng Lubang Buaya’ (ayo, ikut saya ke Lubang Buaya). Dia bertanya juga, ‘ate laopo?’ (mau apa?) Saya bilang saja tidak tahu. Ada perintah dari atasan. Setelah itu dia juga membantu saya mencari anggota,” ceritanya.
Setelah itu, terkumpul 11 orang anggota KKO dan satu orang RPKAD yang langsung diajak Vence untuk melapor ke Lettu Mispan. Mereka langsung dipertemukan dengan Kapten Suhendar.
Keesokan harinya, sekitar pukul 04.00 pagi tanggal 4 Oktober 1965, sebanyak 12 penyelam bersama Kapten Suhendar langsung berangkat ke Bandara Halim Perdana Kusuma yang lokasinya dikabarkan berdekatan dengan Lubang Buaya.
Di sana, Vence bersama rombongannya langsung berusaha mencari lokasi Lubang Buaya.
Setelah bertanya ke sana ke mari, Vence bersama pasukannya bertemu dengan dua orang petugas Polisi Angkatan Udara (PAU) yang sedang berpatroli.
Mereka pun lantas menunjukkan di mana lokasi Lubang Buaya. Selama perjalanan itu, Vence sempat menemui beberapa warga.
Mereka juga mengakui jika lokasi Lubang Buaya itu sering digunakan untuk berlatih Pemuda Rakyat dan Gerwani.
Bahkan, saking banyaknya anggota sayap kiri yang berlatih di sana, ketika ditanya warga tersebut mengatakan jumlahnya sampai jutaan.
”Mungkin kalau kita tidak bertemu dengan dua anggota PAU itu, kita tidak akan sampai di Lubang Buaya, karena semuanya tutup mulut. Lokasinya memang tersembunyi dikelilingi perkebunan karet. Tapi, dari jarak 100 meter saja kita sudah bisa mencium bau anyir dan tajam,” tegas Vence.
Begitu tiba di dekat area Lubang Buaya, Vence tak lantas bisa masuk ke dalam lokasi. Karena rupanya sudah ada puluhan baret merah (RPKAD/Kopassus) yang berjaga-jaga di sana.
”Saya maklum, karena mungkin mereka juga menerka-nerka, mana teman dan mana lawan. Saya sempat marah saat itu karena sudah lelah dari pagi menunggu, mau menolong kok dipersulit. Baru sekitar pukul 10.00, Pak Soeharto datang. Lalu Kapten Suhendar melapor dan kita baru bisa masuk ke dalam,” jelas pria berdarah Manado itu.
Setelah berada di dekat Lubang Buaya, 12 pasukan itu pun langsung menyiapkan diri untuk menyelam. Namun, setelah melihat lokasi penyelaman, mereka mulai saling pandang.
Bahkan saat itu salah satu anggota KKO yaitu Serma Saparimin yang pernah sekolah menyelam di Rusia tidak berani masuk ke dalam Lubang Buaya.
”Kata Serma Saparimin berisiko. Takut ada granat atau ranjau. Karena di kalangan militer memang ada jebakan seperti itu. Tapi saya bujuk dia supaya mau, saya bilang sudah serahkan saja sama Yang di Atas, dan akhirnya dia mau,” ujar Vence sambil tersenyum.
Tak lama setelah menyelam, satu per satu jenazah mulai bisa diangkat. Vence menceritakan, kondisi di dalam lubang sangat gelap. Padahal saat itu kondisi siang hari.
Ditambah tim penyelam sudah menyediakan lampu penerang 1.000 watt yang diletakkan di dalam lubang.
Agar tak menyeruak baunya, berbungkus-bungkus karbol juga sempat dimasukkan ke dalam lubang. Namun, hal itu menurutnya tidak banyak membantu.
Jenazah yang pertama kali berhasil diangkat adalah Lettu CZI Pierre Tendean. Vence menggambarkan, kondisi Pierre Tendean saat itu dapat dibilang cukup bersih karena hanya mendapat luka tembak di bagian dada.
Lalu berturut-turut jenazah jenderal lainnya mulai ditemukan. Yang paling diingat salah satunya menurut Vence adalah jenazah Jenderal Ahmad Yani dan Brigjen Sutoyo yang diangkat secara bersamaan.
”Kalau saya kan kurang begitu kenal dengan para jenderal itu, yang tahu para anggota Angkatan Darat. Saya ingat sekali waktu Jenderal A. Yani diangkat, semuanya langsung bereaksi. Kemudian saya lihat ada luka sayatan melingkar di lehernya, sampai nyaris putus. Begitu diangkat kepalanya langsung berputar ke samping. Saya ingat sekali itu,” tegas Vence sambil terus berdecak.
Dari kondisi jenazah yang ditemukan, Vence pun berkesimpulan mengenai kondisi para korban sebelum dibunuh.
Jenderal A. Yani, kata Vence, diangkat dalam kondisi masih menggunakan piyama. Kemudian Jenderal Suprapto masih mengenakan sarung.
Hanya D.I. Panjaitan yang meninggal dengan menggunakan seragam TNI yang lengkap. ”Kondisinya mengenaskan. Semuanya dengan posisi kepala di bawah. Saya langsung berpikir, bagaimana bisa ada orang sekejam itu. Enam jenderal dalam semalam! Di perang dunia saja, tidak ada yang seperti ini,” tutur Vence.

Lanjutan >>>> Pengakuan Eks KKO: Ada Sayatan Melingkar di Leher Jenderal Ahmad Yani (Bag. Akhir)

0 Response to "Pengakuan Eks KKO: Ada Sayatan Melingkar di Leher Jenderal Ahmad Yani (Bag. 2)"

Posting Komentar