| JPNN.com |
Dia juga menceritakan, selain pasukan katak yang dibawanya, sebelumnya juga sempat ada beberapa orang yang diperintahkan untuk masuk ke sumur Lubang Buaya. Tetapi mereka hanya dibekali masker dan tidak ada satu pun yang kuat masuk Lubang Buaya.
”Sebelumnya ada orang-orang yang disuruh masuk ke sana. Sepertinya para tahanan, tapi tidak ada yang mampu. Baru setelah kita yang masuk, semua jenazah bisa diangkat. Semuanya langsung dibawa ke dalam peti dan dibawa ke RSPAD,” terangnya.
Setelah semua jenazah terangkat, Letjen Soeharto kemudian mengumpulkan para KKO yang telah membantu pengangkatan jenazah.
Soeharto berterima kasih kepada 12 anggota pasukan katak itu karena telah membantu penemuan jenazah para jenderal.
”Terima kasih telah membantu mengangkat jenazah para jenderal, sampaikan ucapan terima kasih saya kepada Jenderal-mu (Jenderal KKO, Red),” jelas suami Theresia Judih Mool itu menirukan ucapan Jenderal Soeharto.
Pascaperistiwa pengangkatan jenazah para jenderal itu, Vence pun kembali ke aktivitas semula. Atas jasanya, Vence pernah menjadi ajudan KSAL R.E. Martadinata. Namun, dampak dari Gestapu menurutnya masih cukup terasa.
Karena tersiar kabar jika akan ada Gestapu jilid 2 yang menyasar jenderal-jenderal yang tersisa seperti Soeharto.
”Waktu itu, KSAL sampai harus pindah rumah sehari sekali. Kita masih khawatir ada gerakan susulan. Ada isu waktu itu akan ada Gestapu tahap 2, mereka mengancam jenderal-jenderal yang tidak pro-PKI. Bahkan, ada kabar jika mayat para jenderal dan tentara yang tidak pro-PKI akan digantung di Jalan Keramat, apa tidak seram?” kata pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah itu.
Ketika kondisi semakin kondusif, Vence pun kembali ke aktivitasnya sebagai anggota KKO. Dia pun tak pernah menceritakan apa pun tentang kejadian yang pernah dialaminya kepada orang lain. Karena kondisi saat itu tengah diupayakan untuk kondusif.
Pernah dirinya dipanggil ke Istana untuk memperoleh Bintang Kartika Eka Paksi dari TNI Angkatan Darat.
Setelah itu, kondisi kembali normal hingga sekitar tahun 2015, Presiden Jokowi memanggil dirinya dan kedua temannya yaitu Kopral Sugimin dan Kopral Samuri sebagai saksi sejarah pengangkutan jenazah jenderal di Lubang Buaya.
“Dulu kita sering datang ikut upacara di Lubang Buaya, tapi kemudian tidak pernah lagi. Baru setelah Presiden Jokowi, saya dipanggil lagi. Tahun ini saya juga ke sana lagi,” ujar pria yang pernah ikut menumpas pemberontakan DI-TII itu.
Vence pun sempat memberikan pandangannya terkait kondisi saat ini yang banyak terjadi perdebatan terkait PKI. Dia mengatakan, kondisi saat itu memang benar-benar kacau. Masa-masa itu merupakan salah satu sejarah yang cukup kelam bagi masyarakat Indonesia.
Vence juga sangat setuju jika film G 30 S/PKI kembali diputar. Karena menurutnya, sekelam apa pun sejarah, tetap harus diungkapkan.
”Menurut saya, sejarah baik atau buruk tetap harus disampaikan. Meskipun itu bisa dibilang sejarah yang jahat. Supaya generasi kita bisa belajar. Saya mendukung kalau film itu diputar. Saya juga baru kali ini bisa menceritakan pengalaman saya kepada media dan ke mana-mana. Mumpung saya masih hidup, saya bisa menceritakan, bagaimana sebenarnya kisah Gestapu itu terjadi,” pungkasnya.
Sumber: JPNN.com
0 Response to "Pengakuan Eks KKO: Ada Sayatan Melingkar di Leher Jenderal Ahmad Yani (Bag. Akhir)"
Posting Komentar